Yang Kuliah Anak Bangsa, Yang Kerja Bangsa Cina
Boleh dong sedikit cerita, cerita sesuai tema di atas yang kuliah anak bangsa, yang kerja bangsa Cina ini terjadi di negera tercinta ini, sebelum rezim ini belum pernah begini, adapun orang-orang yang dari negera eropha yang menduduki di perusahaan tertentu. Tetapi kini, mereka (bangsa Cina) datang berduyun-duyun ke negara tercinta ini hanya untuk bekerja ataukah hal lain (sesuai permintaan dari atasan). Secara bertahap mereka memasuki seperti memasuki kampung sendiri, siang malam silih berganti dia datang dari negeri jauh Cina namanya. Kalau kita berkata jujur maka dianggapnya hoax atau berita bohong, tetapi fenomena yang ada memang seperti itu. Kita tidak sedang bermimpi, bahwa negara tercinta ini sedang diguyur oleh orang-orang dari komunis tersebut.
Media massa, media elektronik sepertinya enggan untuk terbuka menyiarkanya, kalaupun open house maka kena teguran. Akhirnya mereka bekerja di pabrik-pabrik, perkebunan, bahkan tambang emas, kemudian pribumi tergusur banyak yang menganggur. Pribumi yang berhak atas negara ini seakan menjadi babu di negeri sendiri, menjadi miskin di negara sendiri, ingin rasanya menangis tetapi kepada siapa, kepada pemerintah? Ah itu tidak ada tanggapan, pemerintah seakan-akan tidak merespons, pemerintah hanya membangun infrastruktur secara singkat, hampir empat tahun infrastruktur selesai, yang digembar-gemborkan adalah prestasi, tetapi itu hanya retorika pencitraan semata.
Sesuai dengan tema yang penulis tulis, memang benar bahwa anak bangsa yang kuliah tinggi-tinggi di negeri tercinta ini tetapi yang bekerja malah bangsa Cina, ini tanggungjawab siapa. Seharusnyalah tanggungjawab yang mempunyai pintu di negara kita ini yaitu Presiden sebagai simbol negara, seharusnyalah memberi kesempatan bahkan harus memberi kelonggaran bahwa rakyatnya sendiri harus diprioritaskan, Indonesia adalah bangsa yang merdeka sejak 1945, seharusnya diisi dengan pembangunan SDA dan SDM dikembangkan secara bertahap bukan pembangunan infrastruktur yang pendanaanya via utang-utang dari Cina, ini negara kita bung, negara ibu bapak kalian, negara nenek moyang kalian, negara ini merdeka berkat para pejuang-pejuang Islam dan komponen lainya, bukan pejuang Cina yang katanya mempunyai andil dalam kemerdekaan ini, yang saya tahu di film si Pitoeng, Cina itu antek kompeni/penjajah/belanda.
Hingga akhirnya kita menjadi penonton di negeri tercinta yang berdaulat ini, kita hanya bergelut setiap hari mencari sesuap nasi, itupun susah sekali. Kita hanya bekerja yang hasilnya hanya untuk bayar listrik dan speedy lainya ngutang, apakah kita ngutang karena ketularan oleh para penguasa di negeri ini. Hingga saat nanti kita harus bangkit kita harus bela negara kita ini, di negara kita ini jangan menjadi babu di negeri sendiri, kemudian kita jangan diatur-atur oleh mereka yang ingin berkuasa, biarlah rakyat hidup nyaman, aman, tenteram tidak ketakutan karena import beras, garam, jagung, bahkan sabu-sabu. Tolonglah pak presiden akhiri semua sandiwara ini, kalau memang sampean tidak bisa mengelola negara ini dengan baik, maka serahkanlah kepada yang bisa mengelola negara ini dengan baik. Kalau bapak tidak bisa ya jangan diteruskan, sudah banyak bukti-bukti bahwa negara kita tidak maju dan tidak juga mundur. Ajeg.
Apalagi bapak tidak bisa mengusir orang-orang keturunan PKI yang ingin bangkit lagi via PSI,
BAPAK INGAT TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK, KAMI WARGAMU SUDAH JEMU, BOSAN DENGAN PEMERINTAHAN INI, SEMOGA TAHUN DEPAN HARUS GANTI PRESIDEN.....!!!
Demikian akhir cerita ini, yang begitu tragis karena tidak sesuai dengan temanya, tapi begitulah adanya, semoga bermanfaat.


No comments:
Post a Comment