"barusan berbincang dengan seorang penjual baju, katanya daya beli masyarakat turun, coba lihat sekarang sawah2 kering cos kemarau panjang, begitupula dengan nelayan yang tidak melaut karena ombak yang tinggi. yang unik lagi ketika seorang karyawan dengan gaji minim malah kredit motor, begitupula dengan pegawai negeri dengan pola dan gaya hidup yang aneh dimana pendapatan lebih kecil daripada pengeluaran...ini sebagai contoh saja, kita tidak boleh mengeluh begitu saja, mengeluh itu tiada arti...bersyukurlah kita masih mempunyai Allah SWT yang memberi hidup setiap hari...mengharaplah kepada Allah SWT, agar kita selalu diberi rejeki yang bermanfaat....#2019Prasan"
Kutipan diatas merupakan sebuah contoh saja, yang biasa kita hadapi terima setiap hari, sebagai pedagang kecil yang tidak mempunyai lapak bahkan toko, dia adalah pedagang keliling ingin memperoleh upah atau keuntungan, tetapi karena kondisi seperti ini di negeri ini yang kataya gemah ripah loh jinawi ternyata ketika dipimpin oleh seorang kepala negara yang bukan ahlinya maka dampaknya sudah kami rasakan sampai hari ini. Itu sebagian kecil dari seorang pedagang keliling, bagaimana halnya yang terjadi dengan pedagang besar bukan keliling dan mempunyai toko atau lapak baik di pasar tradisional atau mall besar, mungkin sama? Dan toko-toko, para pedagang kaki lima, pedagang keliling bahkan Mall besar hanya bisa berharap bila perayaan Hari Raya Islam tiba. Mereka tentu menginginkan untung yang cukup.
Sebab daya beli masyarakat turun tidak ada yang tahu pasti, tetapi berdasarkan kenyataan di lapangan (dan ini tidak pasti), hal tersebut terjadi karena:
- Saat sekarang musim kemarau yang panjang kapan hujannya, musim kemarau salah apa kenapa dikaitkan dengan daya beli masyarakat turun, tentu ini sob karena kemarau yang panjang ini, sehingga para petani tidak turun ke sawah tapi turun di balai-balai rumah, melongo sambil nyruput kopi cap kampak, Apalagi kalau sawahnya tadah hujan dimana yang diharapkan airnya bila hujan turun, kalau tidak ada hujan maka mereka biasanya nyewa diesel untuk ngebor tanah diambil airnya, tetapi aktivitas itu tentu memakan biaya dan tenaga, disamping tidak ada jasa pengeboran tanah sawah, sehingga mereka (petani) membajak tanah maka mereka malah ngebor tanah untuk mencari air, dan bayar. Dahulu kala bila terjadi kekeringan maka pihak pemerintah dalam hal ini PPL turun ke sawah untuk mencari solusi terbaik guna menyelesaikan masalah tentang sawah yang kering kerontang. Ambil contoh di desa Jembayat Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal, dimana sebagian masyarakatnya adalah petani dan sawah garapanya mengharapkan air hujan (sawah tadah hujan), coba anda pikir bila musim kemarau ini, mereka hanya mencari kayu bakar di hutan sekitar atau jualan makanan kecil di lingkungan madrasah, dampak sawah kering itulah para petani tidak cocok tanam dan tidak ada penghasilan untuk membeli sesuatu selain pangan yaitu sandang.
- Nelayan Tidak Melaut, sebab nelayan tidak melaut karena ombak lautan sedang tinggi-tingginya sehingga mereka takut untuk mencari ikan, ikanpun takut juga dengan ombak tinggi takut terbawa arus dan terdampar. Terus apa korelasinya dengan pedagang keliling, nah ini ada hubunganya. Hasil tangkapan para nelayan kemudian di jual di Tempat Pelelangan Ikan, atau dijadikan makanan kemudian dijual kepada pelanggan, hasil uang itu kemudian mereka belanjakan tidak saja pangan juga sandang (baju, celana, kelambi dll). Para nelayan memang hidupnya seperti itu, semi hura-hura menyukai sesuatu yang wah. Tetapi adapula yang hidup sederhana, uangnya mereka tabung untuk bekal nanti bila nelayan paceklik atau tidak ke laut mencari ikan. Dengan berkurangnya daya beli masyarakat nelayan maka mereka tidak membeli baju kepada para pedagang keliling, semoga hal ini cepat selesai krisisnya.
- Pendapatan tidak seimbangan dengan pengeluaran, nah ini terjadi dari para karyawan-karyawan Mall, karyawan guru honorer dengan gaji di bawah UMR, mereka serasa jumawa bila bekerja di Mall, atau pelayan toko dibandingkan dengan pelayan warteg, dengan baju yang apa adanya maksudnya tertutup (pake jilbab kadang-kadang) mereka merasa wah dan jumawa karena mereka digaji oleh sang pemilik toko, tetapi bila mereka lama bekerja sebagai karyawan minat untuk membeli kendaraan seperti sepeda motor terlampau, walaupun dengan gaji yang pas-pasan tetapi mereka dengan nekatnya membeli sepeda motor kredit, dengan DP 0 atau Rp.500.000. si motor bisa dibawa pulang dengan cicilan sesuai dengan jatuh temponya ada 2 tahun dengan cicilan Rp.400.000 atau 3 tahun Rp.500.000 perbulan, padahal gaji mereka dikira-kira Rp.35.000/hari dikalikan 30 hari = Rp,1.050.000.- jika dikurangi dengan cicilan motornya Rp. 500.000.- maka dia akan mendapatkan hasil Rp. 550.000.- belum lagi bila dia membayar listrik sekitar Rp.150.000/ bulan, beli pulsa Rp. 25.000,- untuk jajan setiap hari Rp.30.000.- kemudian untuk makan setiap hari kali 3 kali Rp.10.000.- Jadi tinggal berapa mereka pegang? Kemudian mereka sangat enggan untuk membeli baju yang kadang harganya Rp.150.000 s/d 250.000 perbaju. Dari hitungan-hitungan itu, mereka pusing, saya sebagai penulis juga pusing karena ikut-ikutan hitung.
- Pola Pegawai Negeri kita, Menjadi pegawai negeri sipil itu harapan setiap orang, bahkan untuk tahun ini 2018, jumlah yang mendaftar menjadi PNS itu terbanyak dalam sejarah bangsa ini. Coba anda bayangkan bila mereka diterima menjadi PNS maka harapan gajian yang mereka akan terima di tanggal muda, 1 s/d 10.
Sponsored, anda mungkin mengenal kacang goreng, tetapi ini kacang yang bernama Bogares, nama unik ini anda harus mencicipinya dengan cara membeli oleh-oleh khas Tegal, penasaran? klik-klik di segmen oleh-oleh makanan khas tegal




No comments:
Post a Comment